Uncategorized

Apresiasi Karya Anak di Pojok Etalase

Ada yang berbeda di akhir pekan kali ini, kebiasaan berleha-leha di kamar sambil nonton youtube dan main sosial media harus saya tunda sesaat untuk aktivitas baru bersama orang-orang baru yang belum lama saya kenal. Hari masih terlalu pagi, saya bersama seorang teman menembus jalan yang sangat lengang dari kepadatan kendaraan menuju salah satu destinasi wisata sejarah di jalan Jendral Sudirman, Makassar. Monumen Mandala adalah tempat yang saya tuju.

Setiba di lokasi, saya pun langsung menyibukkan diri di tenda berukuran 3 kali 3 meter dengan brand minuman dengan tagline “apapun makanannya minumnya ……” nah, semua pasti tahu kan produk yang saya maksud hehe. Namun bukan itu yang ingin saya bahas, skip. Menata perpustakaan mini, memilih lembar demi lembar foto lalu menggantungnya di setiap sudut tenda adalah hal pertama yang saya lakukan. Lanjut menata meja dengan beberapa buah prakarya. Dan…tadaaaa, suasana booth yang dilabeli dengan nama pojok etalasi ini sudah tampak lebih hidup.  

Pojok etalase cuma ada di Festival Anak Makassar yang berlangsung sehari tepat di Hari Anak Nasional, Minggu 23 Juli 2017. Kegiatan ini diinisasi oleh komunitas berbasis relawan, Sobat LemINA yang mempunyai tujuan mulia, yakni membuat anak-anak Indonesia selalu tersenyum. Melibatkan diri sebagai relawan anak dan mengemban amanah sebagai pendamping di pojok etalase, adalah pengalaman pertama saya. Di pojok ini karya adik-adik binaan Sobat LemINA dipamerkan, mulai dari prakarya dari bahan-bahan daur ulang, puisi, gambar hingga tulisan hasil kelas Nulis bareng Sobat di SD Paccinang Makassar dan SDN Sungguminasa IV Gowa. Anak-anak juga bisa belajar menggambar dan mewarnai bersama BhaKTI di sini. Anak-anak bebas menggambar apa saja, bangunan, hewan, bahkan rupa mereka sendiri. Hasil corat-coret mereka pun langsung dipajang di sekeliling tenda kami. Sejak acara dibuka, pojok etalase selalu ramai oleh anak-anak yang antusias dengan berbagai aktivitas di pojok etalase. Wah..senangnya, sungguh diluar dugaan saya yang sebelumnya berpikir anak-anak ini bakalan susah diatur dan akan membuat kami para relawan pendamping kewalahan.

Saya merasa beruntung menjadi bagian dari Festival Anak tahun ini. Peran kecil yang saya emban sungguh menambah kecintaan saya pada anak-anak, mengajarkan saya bekerja ikhlas dan jadi pribadi yang lebih bertanggung jawab. Selain pojok etalase, ada pojok edukasi lain yang bisa dikunjungi di FAM 2017. Seperti pojok Nulis Bareng yang mengajarkan anak-anak cara menulis dengan baik melalui penggunaan huruf kapital, imbuhan dan tanda baca. Pojok Aku Sayang Badanku, di sini anak-anak dibekali pengetahuan melalui video dan lagu tentang cara mencegah diri dari tindak kekerasan seksual. Pojok Anti Korupsi yang menanamkan 9 nilai anti korupsi pada anak seperti kejujuran, keadilan, dan masih banyak edukasi lainnya melalui permainan sejenis monopoli.

Keseruan tidak hanya ada di pojok-pojok edukasi. Munculnya tokoh superhero Spiderman di area festival, cukup mencuri perhatian saya. Bukan soal pahlawan berjaring itu sih, tetapi tentang seorang anak yang akhirnya harus pulang dengan rasa kecewa lantaran sang tokoh idola tidak bisa bergelantungan seperti harapannya. Sabar ya dek…namanya juga tokoh fiksi.

Festival Anak Makassar 2017 yang resmi dibuka oleh Wakil Walikota Makassar, Syamsu Rizal boleh saja berakhir, tetapi pengalaman yang saya dapatkan akan menjadi salah satu cerita menarik yang kelak akan membuat saya tetap tersenyum.

(put/chai) 

*Ditulis oleh dua orang relawan sobat lemina bernama Kak Putri dan Kak Chai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *