Anak

Hukuman Anak Bukan Lewat Kekerasan

Anak merupakan warisan yang kita tinggalkan untuk waktu dimana kita tidak akan hidup untuk melihatnya (Aristoteles)

Kurang lebih seperti itu kalimat yang begitu menarik tentang anak. Kutipan tersebut saya ambil dari buku yang berjudul perkembangan Anak karangan John W. Santrock. Santrock merupakan salah satu anggota dewan editorial Perkembangan Anak dan Psikologi Perkembangan. Selain menuliskan buku tentang perkembangan anak, beliau juga telah menulis buku-buku tentang Psikologi Pendidikan.

Berbicara atau membahas mengenai anak tidak akan ada habisnya. Seperti kalimat yang saya kutip, anak merupakan warisan yang kita tinggalkan. Masa anak adalah masa yang unik dan sangat hidup. Banyak alasan, mengapa saya menyukai dan selalu tertarik ketika berbicara tentang anak. Oleh karena itu, ketika ada kegiatan yang berkaitan dengan anak saya tak sungkan menghabiskan waktu untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Beberapa bulan yang lalu saya diberi kesempatan dari LemINA (Lembaga Ibu dan Anak) untuk mengikuti workshop yang berkaitan dengan anak. Workshop tersebut berjudul “Peran Jejaring Orang Muda Dalam Mencegah dan Menanggulangi Kekerasan Terhadap Anak-anak” yang diselenggarakan oleh Youth Network on Violence Against Children (YNVAC). Tema dari workshop ini sangat menarik karena secara garis besar membahas mengenai peran orang muda dalam mencegah dan menanggulangi kekerasan anak. Dalam workshop ini, setelah pemahaman yang diberikan mengenai kekerasan pada anak, kami mendiskusikan berbagai macam masalah kekerasan pada anak. Secara garis besar ada tiga kekerasan yang bisa terjadi pada anak, yaitu kekerasan fisik, kekerasan psikis, dan bahkan kekerasan seksual. Dari ketiga macam kekerasan tersebut saya akan lebih membahas mengenai kekerasan fisik pada anak.

Stop Kekerasan Fisik

Kekerasan fisik pada anak menjadi salah satu masalah yang sering terjadi disekitar kita. Bahkan pernah terjadi dalam lingkup kita misalnya pada pola asuh orang tua. Kebanyakan orang tua dulu tidak menyadari bahkan menganggap kekerasan fisik merupakan salah satu cara untuk mendidik anak menjadi lebih baik. Menjadikan pukulan sebagai hukuman yang adil untuk anak, menjadikan cubitan sebagai efek jerah ketika ucapan orang tua tidak diindahkan. Padahal, hukuman-hukuman tersebutlah yang secara tidak langsung akan membentuk perilaku anak menjadi keras dan bahkan ketika dewasa mereka akan melakukan hal yang sama, dan yang lebih parah lagi, menjadi pelaku kekerasan.

Berkaitan dengan anak yang dibesarkan dengan kekerasan, terdapat salah satu kisah tokoh dunia dikarenakan kekerasaan yang didapatkan semasa kecilnya. Sehingga, dikenal sebagai diktaktor dunia karena kekerasaan dan kekejamannya. Dia adalah  Adolf Hitler. Hitler dikenal sebagai orator terbesar di abad 20 dengan kekejamannya dalam waktu singkat. Hanya butuh waktu 14 tahun, dunia dapat diobrak-abrik sehingga terjadilah perang dunia II. Semasa kecilnya, Hitler mendapatkan penyiksaan dari Ayahnya. Sejak usia 3 tahun, Ia sudah mendapat cambukan tali pinggang dari sang Ayah. Kemudian, saat usia 6 tahun, keadaan menjadi lebih buruk. Ayah Hitler yang merupakan pegawai sipil Austria, menggunakan gaya mendidik seperti di kantor yang keras dan otoriter. Bahkan tak segan ayahnya melampiaskan rasa frustasi kepada Hitler. Sehingga, kata-kata kasar dan pukulan telah menjadi kebiasaan yang didapatkan sejak kecil oleh Hitler. Alhasil ketika dewasa, Hitler menggunakan kekejaman dan kerasaan sebagai hal yang wajar dilakukan semasa kepemimpinannya. Contoh kekejamannya adalah wilayah yang menjadi kekuasaannya, orang-orang baik laki-laki ataupun perempuan akan digiring seperti binatang dan akan dibunuh di dalam kamar-kamar gas. Dari ulasan kisah salah satu tokoh diktaktor dunia, kita sudah dapat melihat dan mengambil kesimpulan mengapa kekerasan sangat berdampak buruk pada anak.

Kisah Hilter sudah menjadi gambaran yang sangat jelas mengenai dampak kekerasan pada anak dan tanpa sadar dijadikan sebagai suatu hal yang lumrah untuk dilakukan oleh orang tua pada anak dengan tujuan ‘mendidik’. Mendidik anak tanpa kekerasan tidak menjadikan anak secara bebas melakukan hal yang diinginkan bahkan melakukan kesalahan. Banyak cara yang bisa dilakukan ketika anak melakukan kesalahan dengan memberikan hukuman yang membuat ia jerah dan mengakui kesalahanya tanpa menggunakan kekerasaan fisik pada anak.

Jika kita masih terbiasa melihat anak-anak disekitar kita mendapatkan kekerasan fisik dan kadang kita tidak tau harus berbuat apa dan belum berani bertindak. Saya pikir kita bisa melakukan langkah sederhana untuk mencegah mata rantai kekerasan ini, yaitu dengan tidak menjadi pelaku kekerasan fisik pada anak. Namun, ketika kita sudah punya keberanian yang kuat untuk menghentikan kekerasaan pada anak tidak ada salahnya bertindak lebih jauh untuk menghentikan kekerasan tersebut. Kekerasan fisik bukanlah hukuman melainkan perilaku yang akan sangat merugikan anak dikemudian hari. Hukuman harus bersifat jerah dan membangun mental anak bukan menjatuhkan mental anak lewat kekerasaan yang diberikan.

Mengikuti workshop ini begitu bermanfaat bagi saya. Tidak banyak yang bisa saya tuliskan. Namun, semoga kita bisa sama-sama lebih memahami bahwa anak adalah peniru yang paling baik. Yang kita berikan dan contohkan pada anak, anak akan selalu mengikutinya.

*Ditulis oleh relawan Sobat LemINA, Eka Hardianti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *