Cerita Relawan

Cerita Relawan Sobat LemINA

Saya mengenal Komunitas Sobat LemINA sejak akhir tahun 2014, melalui postingan Facebook Fany Fakhrah, teman relawan di Kelas Inspirasi Makassar. Ia berbagi e-poster rekruitment relawan Nulis Bareng Sobat (NBS) dan saya mengisi form pendaftaran.

Saya tertarik karena aktifitasnya di lingkungan Sekolah Dasar dan sasaran kegiatan adalah anak murid kelas 4. Saya pasti akan senang jika bisa ketemu anak-anak dengan berbagai macam karakter, dari golongan menengah ke bawah hingga menengah ke atas, tergabung dalam satu ruang kelas, yang tiap dua pekan, akan menunggu kedatangan para relawan, tuk dapat pengetahuan kepenulisan.

Saya merasa lebih berharga ketika diharapkan tuk datang. Itu artinya saya dibutuhkan oleh mereka. Ketika tak hadir, mereka akan bertanya pada relawan lain dengan pertanyaan seperti,”Mana Kak Ica?”, “Kenapa Kak Ica tidak datang?”

Saat Festival Anak, 23 Juli 2017, saya ketemu dengan Mega, siswi kelas 6 SDN Paccinang Makassar, salah satu sekolah sasaran program NBS. Ia berlari mendekat dengan wajah terpoles make up tipis. Ternyata Ia bertugas sebagai salah satu penampil “Senam Cuci Tangan Pakai Sabun”. Ia menyalami tangan saya, lalu bertanya dengan penuh riang, “Kak Ica sudah tinggal di Bali?”

“Iya, Dek. Tahu dari mana ki?” tanya saya dengan penuh heran.

“Kak Ifa yang bilang kalau pindah meki di Bali. Sama siapa ki tinggal di sana?”

“Kak Ica tinggal sama suami,” jawab saya dengan mata berkaca-kaca.

Terharu karena masih ada murid yang mencari, padahal saya sudah jarang ke sekolah binaan, apalagi sejak Program NBS memasuki batch 4, bahkan tak ke sana sejak awal tahun 2017.

Bila mengingat kenangan NBS, banyak pengalaman yang bisa diceritakan. Saya pernah menggantikan wali kelas yang tak hadir. Padahal waktu itu, bukan hari Sabtu dan bukan jadwal kegiatan NBS. Saya hanya ingin menginisiasi kegiatan Aku Sayang Badanku, edukasi pencegahan kekerasan seksual. Dengan modal pengetahuan penulisan paragraf menggunakan metode 5W+1H, kelas hari itu berhasil dikendalikan. Saya bahkan diberi gelang persahabatan, terbuat dari rangkaian karet gelang, oleh anak-anak.

Awalnya, pasti tak semua anak akan bisa kita ingat namanya. Biasanya, karakter yang paling mudah  namanya diingat adalah anak yang paling pintar dan paling bikin kelas tak kondusif. Saya mau bagi tips, cara mudah mengingat nama adalah dengan mendengarkan percakapan anak. Jika ada perlu, pasti si anak akan memanggil nama temannya terlebih dahulu, saat itu saya akan segera mengidentikkan hal positif yang terdapat pada anak tersebut. Misal, si A memakai jilbab dan memiliki lesung pipi atau si B memiliki mata yang indah.

Saya mengharuskan diri tuk segera bisa ingat semakin banyak nama anak. Karena saya paling suka jika diajak ngobrol dan disapa dengan menyebut nama saya langsung, bukan hanya dengan embel-embel “Nak” atau “Dik”. Saya saja, merasa bahagia diperlakukan begitu, apalagi kalau anak-anak.

Idealnya, satu pertemuan NBS dihadiri oleh 5-6 relawan. Satu atau dua orang sebagai pemateri, satu orang sebagai dokumentator, dan selebihnya jadi pendamping anak. Kalau sebelum jadwal pertemuan NBS, akan ada relawan berkabar tak bisa hadir, namun ada juga yang kadang hanya berkabar saat hari H atau bahkan tak berkabar sama sekali. Saya mensiasati kekurangan relawan dengan mengajak teman, biasanya sih teman kantor, tuk hadir bantu-bantu jadi relawan saat pertemuan NBS. Anak-anak senang jika melihat relawan baru dan lebih bersemangat belajar. Teman saya juga senang jika diajak, namun tidak bisa rutin, hanya bisa bantu sesekali karena kesibukannya.

Ketika sudah akrab, anak-anak akan meminta langsung akun sosial media saya atau mencari tahu sendiri. Jika dapat, langsung meminta pertemanan. Awalnya, saya khawatir jika berteman dengan mereka di dunia maya. Apakah postingan saya nantinya membawa manfaat bagi mereka atau tidak, menjadi contoh baik atau malah menjerumuskan. Namun, saya menepis kekhawatiran dengan menerima saja pertemanan. Sejak itu, saya lebih berhati-hati saat ingin berbagi informasi di sosial media. Hanya itu cara agar saya tetap berkomunikasi dengan mereka, meski sudah tak aktif ke sekolah. Saya juga bisa tahu perkembangannya, dimana pun berada.

Setelah nikah dan ikut suami merantau ke Bali, saya tidak lagi jadi relawan aktif seperti dulu. Lebih banyak memantau dari jauh, melalui obrolan grup Whatsapp. Jika ada hal menarik dari grup atau dokumentasi kegiatan, saya selaku admin salah satu sosial media Sobat LemINA, akan bantu berbagi informasinya di akun tersebut. Inilah cara saya berkontribusi tuk senyum anak Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *