Di hari minggu kemaren (22/9) Sobat LeMINA kembali menggelar Belajar Menulis bersama adik-adik kita di Tempat Pembuangan Akhir Tamangapa Antang. Kegiatan ini merupakan yang keempat kalinya dilaksanakan oleh LeMINA di tempat tersebut.Tema yang diangkat pada kegiatan belajar menulis hari itu tentang ‘RUMAHKU’. Meskipun adik-adik yang hadir tidak sebanyak biasanya, namun ketujuh orang anak yang sempat meluangkan waktu, cukup antusias mengikuti petunjuk dari Kakak-kakak Sobat Anak LeMINA yang telah mempersiapkan proses pembelajaran yang menyenangkan.Image

Ada keharuan, saat adik-adik kita menceritakan tentang rumahnya. Sungguh berbeda dengan keadaan rumah kita yang memiliki ruang atau kamar yang spesifik. Bagi mereka semua ruang adalah sama, tempat mereka bisa bermain, belajar dan beristirahat.

Kita percaya, dengan mereka bercerita tentang rumahnya dan mengenalkan adanya beberapa bagian dari sebuah rumah, bisa membantu mereka untuk memperoleh pengetahuan baru, bahwa sebuah rumah memiliki banyak fungsi dan dapat ditata sedemikian agar tampak nyaman bagi mereka.

Belajar menuangkan cerita itu dalam sebuah tulisan yang teramat “sederhana” telah memupuk rasa percaya diri mereka. Apatah lagi mampu menceritakannya kembali di hadapan kawan-kawannya yang lain dan tentunya juga dihadapan kakak-kakak pendamping. Sungguh, ini adalah moment yang membahagiakan.

Kita tidak pernah mengukur seberapa banyak anak yang hadir, demikian pula seberapa banyak kakak pendamping yang sudi meluangkan waktunya. Kita hanya ingin terus membuat mereka tetap tersenyum dan bangga sebagai anak Indonesia. Membangun mimpi bersama, dan mewujudkannya secara perlahan. Karena kita tidak pernah tahu, ada di antara mereka akan menjadi “orang” pada suatu masa.

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa, selalu memberikan kekuatan, kesehatan, kelapangan waktu dan keluasan rezeki bagi para Sobat Lemina, agar mimpi mulia ini tetap terjaga. Amin.

Image
Read More →

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian ~ Pramoedya Ananta Toer (1925-2006)

 

Menulis belumlah menjadi budaya bagi sebagian besar masyarakat kita, termasuk masyarakat yang terpelajar. Budaya tersebut selayaknya ditanamkan, disiram dan dipupuk sejak usia dini.

 

Menulis merupakan sarana untuk berbagi cerita, pengalaman, kisah, ide, konsep, tips dan yang terpenting adalah merupakan sharing pengetahuan dengan orang lain.

 

Tak semua anak beruntung, bisa belajar di sebuah sekolah yang melatihkan ke mereka untuk selalu menulis dan menulis. Padahal setiap anak selalu punya kisah dan mimpi untuk dituliskan sebagai sejarah perjalanan hidup dan impiannya.

 

Haruskah menanti Pemerintah melakukannya? sementara setiap detik, anak-anak itu tumbuh semakin besar dan menjadi pemuda penerus bangsa besar ini.

 

Hal di atas mendasari Relawan Lemina untuk mengambil bagian dalam menanamkan budaya menulis pada anak-anak sejak dini. Kami mengawalinya di Juni 2013, di sebuah komunitas anak-anak di sekitar Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPAS) Tamangapa Antang Makassar.

 

Kami menyebut kegiatan ini dengan “Nulis Bareng Sobatku”. Kakak-kakak relawan akan menulis bareng sobat-sobat kecil di TPAS Tamangapa, mulai 8 Juni 2013 dan akan beranjut setiap bulannya, hingga Mei 2014.

 

Tulisan terbaik akan ditempelkan di sini

 

Bunda Aisyah Fad menjelaskan ke adek2, trik mengamati benda

 

 
Nulis Bareng Sobat bulan pertama, bersama Ibu-Ibu Doyan Nulis
Tuliskan Sejarahmu

 

Kak Anto Dayat dan sobatnya

 

Kak Fany  nulis bareng sobat-sobatnya

 

Kak Faat dan sobatnya

 

Kak Atifah dan sobat-sobatnya

 

Kak Dimas dan adek Putri “Beri saya ide, kak”

 

Kak Jumed dan sobat jagoannya

 

Kak Udpa dan Sobat-sobatnya

 

 

 

 

Read More →