Matahari sangat terik di Sabtu 24 Januari 2015, ketika saya tiba di SD Paccinang Tello, Makassar. Saya kemudian menuju kelas yang ditunjukkan oleh Ica. Kelas yang berada dekat kantin. Dari luar, sudah terdengar suara anak – anak yang berbicara saling menimpali satu dengan yang lain. Entah apa yang mereka bahas.

Ketika saya masuk ke dalam ruang kelas, anak – anak langsung mengalihkan pandangan ke saya. Dengan tatapan bertanya, mereka berbisik ke temannya. Anak – anak yang duduk di barisan depan, tersenyum menatapku. Sementara saya, langsung menghampiri Ica dan seorang temannya berjilbab hijau, Ifa.

Selang beberapa menit kemudian, ada yang masuk. Ternyata, teman pengajar juga. Dia berbaju biru, Fany. Dia langsung menyapa anak – anak yang saat itu sangat ribut. Ada juga yang berlari menghampiri bangku temannya sambil tertawa bersama. Ada juga yang keluar masuk kelas berlarian.

Namun, ketika Fany berdiri di depan kelas dan memberi salam kepada seluruh anak, seluruh anak langsung menjawab salamnya. Dengan kondisi kelas yang masih ribut, Fany lalu meletakkan telunjuk di ujung bibirnya.

“Sssssstttt… Lomba diam, dimulai!” teriaknya ketika melepaskan telunjuknya dari ujung bibirnya.

Dan seketika, seluruh anak dalam kelas itu serentak melipat tangannya di atas meja dan menutup rapat mulutnya. Tidak ada lagi suara yang terdengar. Fany kemudian melanjutkan bicaranya.

“Jadi, kali ini kita belajar pantun, ya. Siapa yang tahu pantun?” katanya.

Kebanyakan anak di kelas itu pun menggeleng, dan beberapa yang langsung melontarkan pantun. Hanya saja, karena pantunnya sedikit bertema remaja, Fany menyarankan untuk tidak menggunakannya.

Kemudian, saya mulai menjelaskan materi Pantun. Ada beberapa anak yang langsung mencatat dan adapula yang hanya mendengarkan. Setelah saya menjelaskan, Ica lalu berkata pada semua anak bahwa hari ini kita bermain games.

“Jadi, hari ini kita bermain games, ya. Kita main balas pantun. Akan dibagi tiga kelompok. Ini kelompok satu,” Ica menunjuk barisan bangku yang berada di pojok kiri kelas. “Ini kelompok dua,” Ica menunjuk barisan bangku yang berada di tengah. “Dan yang terakhir kelompok tiga.”

Semua anak langsung senang dan mencari nama yang pas untuk kelompok mereka. Saling bersahutan satu sama lain dan mengambil satu suara. Akhirnya, mereka memutuskan nama kelompok mereka masing-masing. Kelompok satu, tim gaul. Kelompok dua, tim smile. Kelompok tiga, tim hardcore.

“Ok. Sekarang, waktunya membuat pantun. Jadi, masing-masing bisa buat pantun. Ini tugas berkelompok, jadi bisa kerjasama. Tapi, bagus kalau satu orang bisa buat pantun sendiri. Saya beri waktu 30 menit,” jelas Fany.

Suasana kelas ketika bekerjasama membuat pantun

Suasana kelas ketika bekerjasama membuat pantun

Lima belas menit berselang, masing-masing kelompok kemudian berdiskusi. Ada yang berkumpul di tengah, ada yang berkumpul di depan. Ada juga yang bekerja sendiri-sendiri. Saling bertanya satu sama lain. Ada beberapa yang menggaruk kepalanya menggunakan alat tulis. Kebingungan, lalu bertanya kepada salah satu volunteer . Ada juga yang mengeluh.

“Bikin puisi saja, kak. Pantun susah,”keluhnya.

Saya lalu menjelaskan bahwa pantun juga sebenarnya adalah jenis puisi lama. Ia pun mengerti lalu melanjutkan membuat pantun. Setelah tiga puluh menit, Fany lalu menambahkan waktu untuk membuat pantun karena melihat anak – anak belum selesai menulis pantun. Penambahan waktu sepuluh menit.

Dan sepuluh menit pun berlalu, semua pantun sudah siap untuk dibacakan. Meski di tim smile masih ada yang belum siap, waktu sudah habis. Dan lomba balas pantun pun dimulai. Fany kemudian memberi peraturan bahwa hanya tim yang ditunjuk yang boleh menyampaikan pantunnya. Dan harus ada yang mewakili timnya untuk membacakan pantunnya.

Tim pertama yang mulai adalah tim gaul. Salah satu wakil dari tim gaul kemudian membaca pantunnya. Pantun jenaka yang berisi bahwa mereka tim gaul dan keren, yang kemudian, dibalas oleh tim smile.

Tim gaul, yang pertama membaca pantun

Tim gaul, yang pertama membaca pantun

Tim Smile membalas pantun dari tim Gaul

Tim Smile membalas pantun dari tim Gaul

Kesempatan ketiga, tim hardcore-pun tak mau kalah, berpantun bahwa timnya hebat. Selanjutnya, tim smile yang mulai pertama.

Ribka, salah satu anak yang ada di tim gaul sangat bersemangat ingin membacakan pantun. Dia ditunjuk oleh Fany untuk mengutarakan pantunnya. Dibacakannya sebuah pantun, yang bermakna, “Jika tak tahu jangan co’do.”

Pantun itu berhasil membuat semua orang di dalam kelas bertepuktangan. Fany mempersilahkan tim hardcore untuk membalas pantunnya. Tak mau kalah, tim hardcore-pun membalasnya dengan lantang. Begitu seterusnya ketiga tim saling membalas pantun satu sama lain.

Salah satu anak mewakili Tim Hardcore untuk membaca pantun

Salah satu anak mewakili Tim Hardcore untuk membaca pantun

Satu per satu anak berdiri membacakan pantun. Dan para volunteer tertawa bersama mereka mendengarkan berbagai pantun yang dibacakan.

Dan saat yang paling ditunggu tiba. Pemberian nilai. Fany kemudian memulai menulis nilai di tiap tim.

“Tim gaul, karena kompak dan bagus pantunnya, tapi sayangnya ribut jadi kena pengurangan nilai. Saya kasih nilai akhir 75,” imbuh Fany sambil menuliskan nilai di kolom tim gaul di papan tulis, yang diikuti tepuk tangan dan teriakan dari semua anak dalam kelas.

“Selanjutnya, untuk tim smile. Karena kompak, kreatif, dan pantunnya berbobot, saya kasih nilai 85,” lanjut Fany sambil menuliskan nilai di papan tulis, kali ini di kolom tim smile. Semua anak kembali tepuk tangan dan bersahut-sahutan.

“Dan yang terakhir, tim hardcore. Karena kreatif dan kompak. Saya kasih nilai, 80,” Fany mengakhiri perkataannya sambil menuliskan nilai di kolom tim hardcore yang diikuti teriakan dan tepukan tangan dari tim smile. “Yang berarti, pemenangnya adalah TIM SMILE!” teriak Fany sambil tepuk tangan, yang diikuti oleh semua volunteer dan anak-anak.

Pemenang Games Pantun, Tim Smile dengan score 85

Pemenang Games Pantun, Tim Smile dengan score 85

Sebuah games yang mengandung makna, keceriaan, dan juga pelajaran tentang pantun diakhiri dengan pengumuman pemenang. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Saatnya untuk berpamitan pada semua anak murid di kelas 4 SD Paccinang Tello Makassar. Kami mengucapkan terima kasih kepada mereka, diikuti dengan salaman dari mereka satu per satu pada kami.

Pengalaman berharga yang saya dapat ketika bergabung dalam kelas ini apalagi menjadi pemateri untuk pantun, benar-benar membuat senang. Tidak ada yang menyangka bahwa anak-anak SD kelas 4 mampu membuat pantun dengan baik dan bagus. Materi yang hanya sedikit, mampu mereka cerna dengan baik dan membuat pantun sesuai dengan gaya mereka sendiri.

Seorang anak yang membuatku terkesan adalah anak perempuan bertubuh tambun dengan rambut ikal. Dia benar-benar bersemangat dan berbakat dalam membuat pantun. Satu kata untuk hari itu adalah “Happy”. Terima kasih untuk pengalaman berharga dan pengenalan mengesankan dengan murid-murid SD Paccinang Tello Makassar dan teman-teman volunteer Nulis Bareng Sobat (NBS).

*Ditulis oleh Ustry Heryani, Relawan tamu dan pemateri pada pertemuan NBS 9 di SD Paccinang Makassar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *