Mengukir cita-cita lewat cerita

Tidak seperti hari biasanya, sabtu pagi ini hujan tak turun membasahi bumi Gowa. Matahari tampak akrab memberi keramahannya pada setiap orang yang akan beraktivitas. Hangatnya matahari pagi menambah semangat bagi kami yang siap menapakkan kaki menuju lokasi kegiatan tempat kami melakasanakan kegiatan NBS selama beberapa pertemuan terakhir.

Seperti biasa di malam sebelumnya, tim C dan tim D yang tergabung bersama dalam satu grup chat facebook berkoordinasi membahas pertemuan untuk hari ini. Dimulai dari pertanyaan salah seorang teman tim D “kelas IVA yang masuk pagi minggu ini, teman-teman siapa saja yang bisa datang besok ? yang bisa datang tolong harap meluangkan waktunya.”

Tidak perlu menunggu waktu lama, sudah banyak anggota tim yang membalas pesan tersebut, tetapi sayangnya melihat isi percakapan antar tim sepertinya hanya beberapa saja yang bisa datang besok.

Kerjasama antar tim sangat dibutuhkan sekarang, walaupun kelas sudah dibagi dua, disaat seperti ini dengan banyaknya teman-teman yang tak sempat hadir ataupun teman-teman yang saat ini sedang bercengkrama dengan keluarga di kampung halamannya, tetap tak menjadi penghalang bagi kami yang masih tersisa disini.

Agar kelas NBS tetap berjalan lancar, dari pertemuan kami pekan lalu, relawan yang hadir berinisiatif menggabungkan tim C dan tim D untuk tetap datang beberapa pekan kedepan ke sekolah.

Tiba di SD, kulihat Ilmi dan Reski sudah lebih dulu tiba, tak jauh dari mereka berdua Iqbal juga sudah datang di sekolah mendahului saya. Selain mereka bertiga, tak kulihat wajah relawan yang lainnya. Kak Ika dan kak Apli yang biasanya datang, hari ini tak sempat hadir karena kegiatan masing-masing.

Sebelum memulai kelas hari ini, kami berkoordinasi dulu dengan wali kelas IVA, tetapi karena ada sedikit masalah, wali kelas IVA menyuruh kami menunggu terlebih dahulu sambil beliau menyelesaikan masalah yang melibatkan pertikaian antara anak muridnya.

Butuh lima belas menit, hingga akhirnya beliau mempersilahkan kami untuk masuk kelas. Tema pertemuan hari ini sama dengan minggu lalu saat membawakan materi di IVB, tema yang dibawakan tentang cita-cita.

Banyak dari anak-anak yang menanyakan, mengapa kami tidak datang pada saat mereka masuk pagi dua pekan lalu. Kami menjelaskan alasan dan meminta maaf pada mereka.

Bergantian dengan Iqbal membawakan materi di depan kelas, dengan sigap Ilmi dan Reski segera membagi diri untuk mengatur anak-anak supaya kelas lebih tertib saat kami berdua menjelaskan. Dari coaching relawan dan beberapa pertemuan yang sudah kami lewati, sepertinya kami sudah mulai mengerti untuk memahami peran masing-masing, sehingga dengan kerjasama tim yang baik seperti ini, meski tak banyak yang datang, kelas NBS tetap bisa berjalan sesuai harapan.

1

Untuk mempermudah mereka mencerna tentang materi yang kami bawa, kupersiapkan beberapa gambar, yang kemudian ditempel oleh Ilmi di papan tulis.

“Ayo angkat tangan. Siapa yang cita-citanya kalau sudah besar ingin seperti mereka?” tanyaku sambil menunjuk gambar yang ada di papan tulis.

Hampir semua anak mengangkat tangan, dan kutanyakan satu persatu gambar tentang jenis profesi, tugas, dan cara mereka supaya bisa menggapai cita-cita seperti gambar tersebut.

Mereka tampak antusias memperhatikan berbagai gambar dan tak sedikit pula yang mengangkat tangannya ingin memberitahu kalau cita-citanya seperti gambar yang tengah kutunjukan.

Setelah memperlihatkan beberapa gambar tentang berbagai profesi tadi, kukeluarkan gambar seorang tokoh terkenal, yang sedang fenomenal belakang ini.

“Ada yang tahu gambar siapa yang lagi Ibu pegang sekarang ?”tanyaku sambil menujuk gambar.

Tidak ada yang bersuara seperti tadi, entah mereka malu atau tidak tahu siapa namanya meskipun pernah melihat gambar wanita tersebut sebelumnya, akhirnya kujelaskan pada mereka mengenai siapa wanita yang kuperlihatkan.

“Ini Ibu Susi Pudjiastuti, beliau adalah menteri kelautan dan perikanan Indonesia saat ini” terangku pada mereka.

Latar belakang kisah hidupnya yang berasal dari keluarga tidak mampu dan semangat besar yang Ibu Susi Pudji Astuti miliki dalam berusaha, sampai bisa mempunyai perusahaan besar miliknya sendiri, hingga diangkat menjadi menteri kelautan saat ini, kuceritakan secara singkat pada mereka.

Anak-anak antusias memperhatikan dan sesekali terpana saat kuceritakan kekayaan yang Ibu Susi miliki, sebagai hasil dari kerja kerasnya selama belasan tahun. Semangat dan pantang menyerah kuajarkan pada mereka dari contoh yang kuberikan.

“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini selama kita mau berusaha meraihnya” kata terakhirku mengakhiri cerita tersebut.

Seperti biasanya setelah memberi materi, relawan yang lain langsung membagikan kertas berwarna. Kali ini, mereka harus mengarang cerita tentang cita-cita mereka. Kami berempat membagi diri ke setiap baris kelompok dalam kelas, untuk mendampingi mereka menuliskan cita-cita.

Setiap anak menuliskan segala mimpi dan harapannya ke depan. Hari ini mereka menjadi arsitek hidupnya sendiri. Wajah mereka berseri, mata mereka berbinar, senyum mereka bertebar. Sesekali kami menanyakan tentang apa cita-cita yang mereka inginkan kelak. Apakah mereka sudah paham dan berani atau tidak untuk menceritakan cita-cita mereka di depan kelas.

Ditanya seperti itu, tidak sedikit anak-anak yang saling menertawakan cita-cita mereka. Kukatakan pada mereka, agar tidak usah malu dengan impian mereka, harus percaya diri dan pantang menyerah kalau ingin berhasil.

2

Empat puluh menit berlalu, mengakhiri sesi kelas hari ini kami melakukan penyegaran dengan mengajak anak-anak ice breaking.

Marina menari di atas menara, di atas menara, Marina menari

Seseorang kuminta naik menceritakan tentang cita-citanya, banyak diantara mereka yang mengangkat tangan tapi malu untuk tampil ke depan kelas. Dengan percaya diri, seorang siswi langsung menuju ke depan kelas dan segera menceritakan cita-citanya.

3

Evi Asyura yang sedang bercerita tentang Cita-citanya

Namanya Evi Asyura, dia bercerita tentang cita-citanya yang ingin menjadi artis, idolanya adalah penyanyi dangdut Inul Daratista. Saat kutanyakan apakah dia bisa menyanyikan sebuah lagu untuk kami, dengan percaya diri dia menyanyikan sebuah lagu dangdut sambil sesekali bergoyang tanpa menghiraukan teman-temannya yang riuh tertawa melihatnya tampil percaya diri di depan kelas.

Ayo goyang dumang biar hati senang, fikiranpun tenang kalau lagi bosan,

Ayo goyang dumang biar hati tenang, semua masalah jadi hilang

Kurang-lebih seperti itu lirik yang sering kudengar saat Evi menyanyikannya. Meskipun lagu yang dia bawakan bukan milik idolanya, tapi Evi sudah menunjukan pada kami semua kalau dia berani bermimpi dan percaya diri untuk cita-citanya.

Akhirnya kelas berakhir, satu persatu murid menyalami kami saat berjalan keluar kelas. Kami berempat bersyukur karena tugas mendampingi anak-anak di kelas NBS hari ini dapat berjalan sesuai harapan dan menyenangkan.

Semoga Tuhan menjamah setiap doa, membimbing dan selalu memberkati anak-anak yang penuh usaha mewujudkan mimpi. Tinggal lima pertemuan lagi, teman-teman relawan akan tetap melakukan yang terbaik, tetap semangat, dan semoga kerja sama antar tim dapat lebih di tingkatkan kedepannya. ^_^. Amin allahumma amin.

 

Ditulis oleh, Shabrina, Relawan NBS, TIM C SDN Sungguminasa IV Kab. Gowa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *