Mengajar Untuk Belajar

Sebagian dari kami tim NBS Gowa sudah pernah mengajar dan bukan hal baru, tapi bertemu dengan siswa-siswi SDN Sungguminasa IV Gowa yang merupakan hal baru bagi kami. Kesan pertama yang kami temukan, sambutan yang hangat dari adik-adik  kelas 4 SDN Gowa. Tak henti datang bergiliran ingin bersalaman dengan semua tim NBS Gowa. Itu awal kedekatan kami dengan adik-adik kelas 4 SDN Sungguminasa IV Gowa.

Setiap kelas berisi sekitar 28-30 siswa. Suasana kelas  sangat ramai. Program pertama yang diberikan adalah pengenalan huruf kapital. Sebelumnya kami tim NBS Gowa yang beranggotakan 6 orang, sudah merancang kegiatan yang akan diberikan, jadwal kegiatan dan sepakat untuk membagi seluruh siswa menjadi 3 kelompok kecil. Setiap kelompok didampingi oleh 2 orang kakak pendamping, sehingga setiap kakak pendamping bisa turut berperan. Hal ini cukup efektif untuk membuat kelas lebih tenang, sekaligus kakak-kakak lebih mudah mengamati perkembangan anak dalam kelompoknya. Kegiatan diawali dengan membuat jurnal, yakni sebuah tulisan yang dibuat oleh adik-adik NBS tentang hal yang ingin ia ceritakan. Dari jurnal tersebut, kami bisa melihat dengan jelas bagaimana penggunaan huruf kapital saat mereka menuliskan cerita. Setelah itu, pemberian materi melalui media pembelajaran yang menarik untuk mereka dan diselingi dengan games. Adik-adik NBS cukup antusias belajar tentang huruf kapital dan materi lain yang diberikan.

Tak jarang, terjadi konflik dalam kelas. Ada yang ingin lebih diperhatikan sehingga bertingkah lebih dari biasanya, ada yang menangis karena merasa terganggu dan ada yang belum bisa mengontrol emosinya dengan tepat. Mengajar bukan hanya menyampaikan materi ajar kepada peserta didik, tapi kami belajar memahami mereka, setiap anak. Ketika ada konflik dalam kelas, artinya ada persepsi yang berbeda sedang bertemu. Kami belajar menempatkan diri bukan sebagai hakim yang ingin menghakimi mereka, kami cuma membantu mereka menyamakan persepsi, mencari solusi yang bisa membuat lebih nyaman.

Menjadi Pengajar berarti menempatkan posisi sebagai sorotan mata anak-anak di dalam kelas, yang menjadikan pengajar sebagai modelling. Walaupun cukup singkat waktu kami mengajar dari pukul 11.15 – 12.15 WITA, tetap saja 1 jam tersebut merupakan durasi dimana anak-anak bisa meniru tingkah laku kami. Kami tidak pernah memarahi atau menghukum ketika ada anak yang berbuat tidak sesuai aturan. Kami menyampaikan informasi tentang hal yang baik dan mencontohkan dengan tingkah laku, dan konsisten dengan apa yang diucapkan. Kami belajar dari tingkah laku mereka, tidak ada orang yang ingin dimarahi, sama seperti anak-anak. Tidak orang dewasa yang ingin dihukum, sama seperti anak-anak. Anak-anak butuh sosok yang bertingkah laku baik yang bisa mereka contoh. Bayangkan ketika sosok yang ada dihadapan mereka berperilaku tidak benar, sehingga tersimpan dalam persepsi mereka bahwa perilaku tersebut adalah hal yang wajar.  Dan kami mulai dengan hal tiga kata sederhana “terima kasih, tabe’ (tolong), maaf”. Kami berharap, kami dan mereka bukan hanya belajar tentang materi akademik saja tetapi sikap baik ke sesama dan orang lebih tua bukan karena takut tapi kesadaran untuk menjadi lebih baik.

 

*Ditulis oleh Andi Nur Zamzam Arman, relawan NBS tahun 2016 yang akrab disapa Zamzam. Saat ini sedang menempuh pendidikan Magister di Universitas Indonesia jurusan Psikologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *