Exemple

Takalar, Indonesia (24-03-2018). Komunitas relawan LemINA mengadakan Aksi Tinju Tinja di Kabupaten Takalar. Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan yang dinaungi oleh UNICEF. Aksi Tinju Tinja ini bertujuan untuk menghilangkan kebiasaan masyarakat Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Daerah yang menjadi lokasi diadakannya Aksi Tinju Tinja ini adalah Dusun Maccini Baji, Desa Ujung Baji, Kecamatan Sanrobone yang merupakan daerah pesisir. Kegiatan ini mengikutsertakan semua kalangan mulai dari anak-anak, remaja, dewasa sampai orang tua. Tahun ini merupakan tahun pertama LemINA turut serta dalam Aksi Tinju Tinja. Dengan diadakannya aksi ini, semoga dapat mendukung untuk mencapai Indonesia bebas BABS pada 2019 yang akan datang.

LemINA hadir untuk meberikan pemahaman kepada para masyarakat terkait bahaya Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Animo masyarakat sangat besar dalam mengikuti aksi ini, hal tersebut dibuktikan dengan padatnya Aula Masjid yang menjadi lokasi kegiatan. Untuk mengefisienkan dan mengefektifkan Aksi Tinju Tinja, para relawan membagi para pesera Aksi Tinju Tinja ke dalam beberapa kelompok kecil, ini dilakukan agar seluruh peserta paham akan dampak dari Buang Air Besar Sembarangan (BABS).

Masyarakat Dusun Maccini Baji tergolong jauh dari kebiasan Buang Air Besar (BAB) pada tempatnya, hal ini dikarenakan kurangnya WC atau bahkan bisa dikatakan sangat minim. Menurut data Sanitarian Peskesmas Desa Ujung Baji terdapat kurang lebih 100 kepala keluarga tidak memiliki WC. Hal tersebut yang menyebabkan sebagian besar masyakarat membuang tinja bukan pada tempatnya. Salah satu upaya pemerintah setempat untuk menaggulangi permasalah tersebut adalah menyediakan WC umum, namun ternyata solusi tersebut tidak berjalan lancar, hanya berjalan beberapa bulan dan akhirnya kebiasaan masyarakat tersebut kembali seperti semula. Menurut sebagian besar masyarakat akibat dari hal tersebut adalah jauhnya jarak rumah penduduk dengan WC umum, sehingga masyarakat memutuskan untuk tidak menggunakan WC umum dan lebih memilih Buang Air Sembarangan (BAB).

Melihat antusias masyarakat yang begitu luar biasa terhadap aksi ini, LemINA berharap sekiranya masyarakat bisa menyadari bahaya dari Buang Air Sembarangan (BAB). Kami menyampaikan terima kasih kepada para Sanitarian Puskesmas dan pemerintah setempat atas kerjasama dalam penyelenggaraan aksi ini, serta para mitra UNICEF baik organisasi maupun pemerintah.

 

Tulisan oleh Fitria, relawan Sobat LemINA 

Read More →

Sebagian dari kami tim NBS Gowa sudah pernah mengajar dan bukan hal baru, tapi bertemu dengan siswa-siswi SDN Sungguminasa IV Gowa yang merupakan hal baru bagi kami. Kesan pertama yang kami temukan, sambutan yang hangat dari adik-adik  kelas 4 SDN Gowa. Tak henti datang bergiliran ingin bersalaman dengan semua tim NBS Gowa. Itu awal kedekatan kami dengan adik-adik kelas 4 SDN Sungguminasa IV Gowa.

Setiap kelas berisi sekitar 28-30 siswa. Suasana kelas  sangat ramai. Program pertama yang diberikan adalah pengenalan huruf kapital. Sebelumnya kami tim NBS Gowa yang beranggotakan 6 orang, sudah merancang kegiatan yang akan diberikan, jadwal kegiatan dan sepakat untuk membagi seluruh siswa menjadi 3 kelompok kecil. Setiap kelompok didampingi oleh 2 orang kakak pendamping, sehingga setiap kakak pendamping bisa turut berperan. Hal ini cukup efektif untuk membuat kelas lebih tenang, sekaligus kakak-kakak lebih mudah mengamati perkembangan anak dalam kelompoknya. Kegiatan diawali dengan membuat jurnal, yakni sebuah tulisan yang dibuat oleh adik-adik NBS tentang hal yang ingin ia ceritakan. Dari jurnal tersebut, kami bisa melihat dengan jelas bagaimana penggunaan huruf kapital saat mereka menuliskan cerita. Setelah itu, pemberian materi melalui media pembelajaran yang menarik untuk mereka dan diselingi dengan games. Adik-adik NBS cukup antusias belajar tentang huruf kapital dan materi lain yang diberikan.

Tak jarang, terjadi konflik dalam kelas. Ada yang ingin lebih diperhatikan sehingga bertingkah lebih dari biasanya, ada yang menangis karena merasa terganggu dan ada yang belum bisa mengontrol emosinya dengan tepat. Mengajar bukan hanya menyampaikan materi ajar kepada peserta didik, tapi kami belajar memahami mereka, setiap anak. Ketika ada konflik dalam kelas, artinya ada persepsi yang berbeda sedang bertemu. Kami belajar menempatkan diri bukan sebagai hakim yang ingin menghakimi mereka, kami cuma membantu mereka menyamakan persepsi, mencari solusi yang bisa membuat lebih nyaman.

Menjadi Pengajar berarti menempatkan posisi sebagai sorotan mata anak-anak di dalam kelas, yang menjadikan pengajar sebagai modelling. Walaupun cukup singkat waktu kami mengajar dari pukul 11.15 – 12.15 WITA, tetap saja 1 jam tersebut merupakan durasi dimana anak-anak bisa meniru tingkah laku kami. Kami tidak pernah memarahi atau menghukum ketika ada anak yang berbuat tidak sesuai aturan. Kami menyampaikan informasi tentang hal yang baik dan mencontohkan dengan tingkah laku, dan konsisten dengan apa yang diucapkan. Kami belajar dari tingkah laku mereka, tidak ada orang yang ingin dimarahi, sama seperti anak-anak. Tidak orang dewasa yang ingin dihukum, sama seperti anak-anak. Anak-anak butuh sosok yang bertingkah laku baik yang bisa mereka contoh. Bayangkan ketika sosok yang ada dihadapan mereka berperilaku tidak benar, sehingga tersimpan dalam persepsi mereka bahwa perilaku tersebut adalah hal yang wajar.  Dan kami mulai dengan hal tiga kata sederhana “terima kasih, tabe’ (tolong), maaf”. Kami berharap, kami dan mereka bukan hanya belajar tentang materi akademik saja tetapi sikap baik ke sesama dan orang lebih tua bukan karena takut tapi kesadaran untuk menjadi lebih baik.

 

*Ditulis oleh Andi Nur Zamzam Arman, relawan NBS tahun 2016 yang akrab disapa Zamzam. Saat ini sedang menempuh pendidikan Magister di Universitas Indonesia jurusan Psikologi

Read More →