Happy Independence Day.Entah mengapa hari ini, aku seperti mendapatkan energy tambahan yang sangat luar biasa, mungkin karena bertepatan dengan Negara ini Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke 68, tapi alasan dari semangat dan kebahagiaanku hari ini yang paling utama adalah salah satu mimpi atau keinginanku dapat tercapai, untuk pertama kalinya aku dapat merayakan acara 17 agustus bersama sobat-sobat kecilku di Tempat Pembuangan Akhir sampah (TPA Tamangapa) Antang Makassar.
Aku dan beberapa teman dari Penyala Makassar dan Lemina akan merayakan 17 agustusan dengan mengadakan beberapa lomba salah satunya adalah lomba “Nulis Bareng Sobat”. Kegiatan ini menarik, karena masing-masing dari kami para volunteer akan mendampingi masing-masing satu anak, dan ini adalah sebuah tantangan tersendiri buatku, ini kali pertama dalam hidupku aku di minta mendampingi salah satu anak untuk menulis dan ini bukan sekedar menulis biasa tapi ini adalah sebuah lomba di mana temanya pun telah di tentukan oleh teman-teman panitia yakni “Independence Day”
Aku di pilih oleh seorang sobat kecil bernama Syahrul Yasin Limpo(ini benar nama asli sobat kecilku), sebelum ia memulai menuliskan ceritanya kami terlebih dahulu melakukan diskusi singkat, aku mempelajari lebih dekat tentang sosok anak ini. Mungkin tergolong agak kepo atau apalah istilah anak ababil belakang ini, aku menanyainya tentang profesi kedua orang tuanya tentang apa yang ia sukai dan akhirnya aku bertanya pada pertanyaan intiku.
“Syahrul, pernah ikut lomba 17 agustusan nggak??”
“Pernah kak, lomba balap karung”, ucap syahrul seraya menatapku dengan mata yang berbinar penuh kebanggaan.
“Menang nggak??” aku kembali memulai percakapan dengannya
“Kalah sih kak, tapi syahrul senang soalnya bisa lompat-lompat di dalam karung udah gitu kalau jatuh seru soalnya pada teriak gitu teman-temannya”
Sejenak aku termenung, di daerah yang jauh dari kata bersih dan layak tinggal ini aku kembali menemukan sebuah pelajaran penting ketika bahagia itu bisa di dapatkan hanya dengan mengikuti sebuah lomba balap karung. Tuhan benar-benar Maha adil, anak-anak yang serba kekurangan ini ternyata memiliki hidup yang jauh lebih bahagia di banding aku yang boleh di katakan jauh lebih beruntung.
Aku menatap bocah di hadapanku dengan seksama, dia sungguh luar biasa.
“Jadi, bagaimana kalau syahrul nulisnya tentang lomba 17san taun kemari aja dek, waktu syahrul ikut lomba balap karung??”
“Tapi kan di situ saya kalah kakak??” ucapnya dengan nada polos
“Menang dan kalah itu sama saja, yang penting syahrul pernah ikut lomba” hiburku seraya mengelus kepala bocah laki-laki itu.
Ia menatapku sekilas seraya tersenyum padaku, senyum paling manis yang ku dapatkan saat itu. Tak butuh waktu lama ia menarik tanganku, mengajakku mengambil posisi paling pojok dari peserta dan para volunteer yang lain.
Syahrul tak banyak bertanya padaku, sesekali ia hanya memperlihatkan tulisannya bertanya apakah cara penulisannya sudah benar atau belum, jujur aku cemburu pada anak-anak di sekelilingku salah satunya Syahrul begitu mudahnya mereka merasakan kebahagiaan di tengah keterbatasan, sedang aku? Terkadang sulit merekah senyum bahkan terlihat acuh dan tak bahagia padahal di bandingkan mereka, mungkin nasibku jauh lebih beruntung di banding sobat-sobat kecilku.
“Kakak, syahrul sudah nulisnya”, ucapanya menyadarkanku dari lamunan.
“Oh sudah, sini kakak liat” ucapku seraya mengambil kertas yang sudah penuh dengan coretan tangannya. Agaknya tulisan Syahrul memang jauh dari kata rapi, tapi aku menyukainya kertas yang tadinya putih telah terisi penuh dengan tulisan dan kata-kata polosnya. Aku mengembalikan kertas yang sudah ku baca tadi. “Syahrul, kertasnya di kumpulin ke kakak panitianya ya” kataku sambil menyodorkan kertas miliknya.
“Iya kak” ucap bocah itu seraya tersenyum padaku
Pengumuman pemenang segera di mulai, raut cemas karena takut mengalami kekalahan terpampang jelas di wajah bocah-bocah itu. Baik Syahrul dan bocah-bocah lain yang mengikuti perlombaan “Nulis Bareng Sobat” terlihat mengerumuni Kak Udpa salah satu panitia yang akan mengumumkan pemenang perlombaan.
Aku hanya bisa tersenyum memandang tingkah mereka. Kak Udpa mengumumkan pemenangnya dari juara satu, dua, sampai tiga. Tak ada nama Syahrul di antara ketiga pemenang itu, tapi saat itu aku dapat melihat dengan jelas tak ada raut sedih dari wajahnya, ia bahkan dengan sangat gentle memberikan selamat kepada para pemenang. Ya Allah, ku dapatkan lagi pelajaran kedua dari bocah penuh semangat itu hari ini.
“bahwa kompetisi tetaplah sebuah kompetisi di luar ini semua kita adalah tim, tim dalam sebuah kehidupan”
Tulisan ini ku persembahkan untukmu adik kecil, sehari pertemuan kita aku belajar dua hal dari mu yakni sebuah kebahagiaan yang sederhana dan sikap gentlemu di tengah kekalahanmu, kamu adalah calon pemimpin bangsa ini Syahrul Yasin Limpo (bocah yang hidup dan bersahabat dari tumpukan bahkan gunungan sampah).
Sebelum lomba kita perkenalan dulu ya, kan “Tak kenal maka tak sayang” ^^
Yeyeyeyeyey Happy Independence Day
 Kita pose dulu kakak 🙂
 Ahhh semangat banget nulisnya ^^
Hihihih kakaknya di kerumunin ^^
Rasanya kurang Afdol kalau nggak berfoto sama pemenangnya ya, selamat buat adek Putri (Kanan)
Mimpiku memang amat sederhana, merayakan 17 agustusan bersama mereka anak-anak yang ku sebut “Pemeluk mimpi”, anak-anak yang setia bersahabat dengan sampah dan anak-anak sederhana yang tetap bersemangat di tengah gunungan sampah. Tetapi, dengan merekalah salah satu impianku dapat terwujud, merekah senyum bersama mereka:)
Tulisan ini oleh Wiwi, seorang relawan Lemina. Juga diposting di blog pribadinya http://aswan-wiwi.blogspot.com/2013/09/17-agustus-2013_11
Read More →
 yayat1
Sabtu siang, 08 Juni tahun yang sama. Alam sementara asyik memainkan perannya. Kadang cerah, kadang mendung. Terik di pagi hari, badai sorenya; sebaliknya, tak tentu. Sepertinya bulan keenam akan menjadi awal musim kemarau yang basah bagi kota kita.  Pinggiran selatan Kota Makassar, terdengar riuh semangat anak-anak yang tengah belajar; iya, waktu serupa di sanalah saya berada.  Sungguh satu kesempatan yang luar biasa, bisa berpartisipasi dalam kegiatan menulis anak-anak TPA Tamangapa, Antang. Kegiatan ini diprakarsai oleh teman-teman LEMINA (lembaga Ibu dan Anak) dan IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis).
Antusias, sebut saja cara saya menggambarkan raut wajah adik-adik. Mempraktikkan instruksi fasilitator; bercerita lisan, membaca, menulis, sesekali terselip tawa, adu suara bahkan mimik dan gerakan-gerakan lucu nan centil tak luput diperagakan oleh mereka.
Nulis Bareng SObatku

Nulis Bareng SObatku

Adik-adik yang bermukim di sekitar TPA; siapa bilang mereka tak pantas mendapatkan pendidikan yang layak. Siapapun, setiap anak di sudut-sudut negeri ini berhak dan memiliki kesempatan yang sama besar untuk menggantung cita-cita setinggi-tinggi.
Tulisan adik-adik  yang sempat didokumentasikan oleh penulis sendiri. Lengkapnya setalah kalimat ini.
 Tulisan adik-adik TPAS Tamangapa

Tulisan adik-adik TPAS Tamangapa
Ernawati, kelas 4
Aku bangun tidur, saya pergi cuci muka sesudah cuci muka saya langsung mandi. Sesudah saya mandi saya dipanggil untuk sarapan pagi. Makanannya tahu tempe ikan dan telur dan nasi  dan lain-lain. Sesudah sarapan pagi saya pergi membeli geroppo.
Ita, kelas V
Pada pagi hari saya bangun saya disuruh ibu saya untuk memakan saya memakan ikan ayam  yang ditumis kecap. Pada sekitar jam 08.00 saya pergi ke Mal Panakukang yang diajak oleh guru yaitu Kak Rusda, Ayu, Risna, dan Kak Irwan untuk menonton sebuah film. Kita semuan memakan popcorn dan meminum air botol sambil menonton film yang berjudul  Temani Aku Bunda.
Reski Auliyah, kelas 3
Tadi pagi saya pergi sama ibuku. ibuku membeli sayur. sampai di rumah sayur itu dimasak. Setelah masak saya makan sayur kangkung saja sama makan nasi sama minum air putih. 
Kamelia, kelas 4
Pada saat aku pergi ke pasar mencari nasi dengan ibu dan ayah. Aku tadi siang pergi ke sekolah untuk belajar. kita perhatikan guru kita aku ulangan di sekolah. Aku pulang ke sekolah aku membeli kelapa dengan ibu ke rumah teman-teman ayah aku langsung makan pagi setelah itu aku pergi ke sekolah untuk belajar di sekolah aku langsung ke rumah setelah itu aku langsung makan pagi dengan ayah, ibu dan kakak saya setelah itu aku pergi ke sekolah.
Umar
Tadi pagi saya sarapan dengan ibu dan kakak saya makan roti dan nasi kuning. tadi pagi saya mandi dengan pakai sabun sudah mandi saya harus pergi ke sekolah bersama-sama teman-teman tapi saya sudah pulang. Hore aku sudah pulang bersama teman saya.
Putri, kelas 5
Pada hari itu aku ke pantai dan melihat orang yang tenggelam di pantai. Untung saja ada yang menyelamatkannya. Dia langsung dibawa ke rumah sakit dan ada yang masuk air ke hidungnya. Kulitnya terkelupas karena dia dikena batu karang. Dia juga masuk angin dan masuk air di telinganya.
Adik yang lupa menuliskan nama
Aku sedih sekali karena ditinggalkan sama bapak dan adik ibu. Aku sendiri yang di rumah saya sekarang tinggal sama kak sepupu. Mamaku sekarang kerja pemulung. Bapakku sekarang kerja mobil. Adik selalu kujaga kalau setiap pergi kerja. Terimakasih.
Sartika, kelas 5
Waktu aku bangun pagi aku mandi terus sarapan pagi. Sesudah sarapan pagi aku ke sekolah. Waktu sampai ke sekolah aku belajar dengan teman-teman. Waktu belajar aku melihat teman lagi menangis karena dia dipukul dengan teman sebangku. Waktu aku juga pulang dari sekolah aku melihat orang kecelakaan, waktu saya lihat yang ketabrak itu kakek-kakek terus kakek-kakek itu mempunyai luka di kepalanya dan aku pulang duisuruh makan siang sama ibu dan pas jam 2 ke 3 aku pergi ke SKW dan ada tamu diajari menulis dongeng, cerita karangan, puisi ditulis lalu ditempel.

Aha, lucu juga cara mereka merangkai kata. Berkata, menuliskan kepolosan ada adanya. Meski terkadang saya harus menarik napas panjang dulu sebelum membacanya, pantaslah kita memberi apresiasi untuk mereka yang sedang berjuang menghadapi kerasnya hidup.

 Bersama adik-adik TPAS Tamangapa

Bersama adik-adik TPAS Tamangapa
Ditulis oleh Adrianto Hidayat, Relawan  Anak Lemina
Tulisan ini diambil dari blog pribadi Kak Adrianto http://adriantohidayat.blogspot.com/2013/07/kami-menulis.htm
Read More →