siswa yang menggantikan Deni

Apa yang terbayangkan, ketika seseorang menanyakan tentang cita-cita saat kalian masih duduk di bangku SD? Pertanyaan itu, sempat membuatku ragu tuk melangkahkan kaki menuju pertemuan 7 “Nulis Bareng Sobat – part 2” yang digelar seminggu sebelum liburan anak sekolah, tepatnya tanggal 20 Desember 2014.

Pertanyaan yang sebenarnya akan mudah dijawab oleh anak-anak jaman sekarang. Tapi cukup sulit jika itu ditanyakan ketika usiaku masih seumuran mereka. Tapi, rasa penasaran -baca selanjutnya>

Read More →

Sabtu Pagi, 13 Desember 2014, Nulis Bareng Sobat (NBS) Tim B di SD Paccinang Makassar memasuki pertemuan keenam. Kali ini saya datang lebih cepat. Beda dari biasanya.

Sekitar pukul 09.00 WITA, relawan yang hadir baru ada lima orang yaitu Saya, Ummy, Icha dan Fany dari Tim A, dan seorang relawan baru, namanya Sari.

Tepat pukul 9.30, bel sekolah berbunyi tanda anak-anak masuk ke kelas. Kami masuk ke kelas dan mulai beraksi dengan beberapa hal yang telah direncanakan.

Tema pertemuan keenam bersadarkan panduan yang telah diberikan yaitu menulis dan bercerita tentang keadaan lingkungan sekolah. Namun pada rapat koordinasi dan evaluasi pekan lalu, Tim B sepakat untuk pertemuan ini, akan dilakukan evaluasi penulisan dan penggunaan kata.

Pertemuan kali ini kami buka dengan salam pembuka yang tidak biasa dari sebelumnya. Rupanya hal ini membuat anak-anak menjadi lebih bersemangat.

Memulai proses belajar dengan menyepakati aturan bersama anak-anak, yang mengharuskan mereka tidak ribut dan mengganggu teman. Bagi mereka yang aktif dan patuh terhadap aturan, akan mendapat “sesuatu” dan yang tidak mematuhi aturan akan mendapat hukuman.

Pada umumnya, kesalahan anak-anak terletak pada penulisan huruf pertama di awal kalimat. Nampak tak terbiasa menggunakan huruf kapital. Sebenarnya, siswa kelas IV sudah mendapat materi penggunaan huruf kapital di pelajaran bahasa Indonesia. Bisa dipastikan bahwa karena tidak terlatih untuk selalu menulis, sehingga hal sederhana seperti itu, jarang mereka perhatikan.

Semangat siswa-siswa kelas IVB

Semangat siswa-siswa kelas IVB

Kesalahan lain, terletak pada penulisan kata depan di- dan ke-. Terkadang untuk kata keterangan tempat yang mengikuti awalan di- dan ke-, tidak mereka pisah. Sementara untuk kata kerja yang mengikuti awalan tersebut, tetap mereka sambung penulisannya.

Tidak sekedar mengevaluasi tulisan mereka, kami menjelaskan ulang tentang cara penulisan huruf kapital dan bagaimana membedakan, kapan awalan di- dan ke- bisa disambung penulisannya dengan kata setelahnya, dan kapan tidak.

Sebagian anak paham dengan penjelasan kami, tapi masih ada juga yang bingung. Karena masih banyak yang bingung, kami selingi penjelasan dengan Ice breaking “bim-bang-biri” agar membuat anak-anak lebih bersemangat dan fokus.

Guna mengukur tingkat pemahaman anak-anak terhadap penjelasan kami, mereka diberikan tugas menulis di rumah tentang pengalaman mereka mengikuti ujian, yang beberapa hari lagi akan berlangsung. Tuugas tersebut akan diperiksa pada pertemuan selanjutnya.

Mengakhiri sesi kelas hari itu, kami mengajak anak-anak bermain. Mereka sangat antusias dengan permainan membaca, mendengarkan dan menebak.

Seorang membaca tulisannya di depan kelas, anak yang lain mendengarkan dengan baik dan mereka menebak jawaban yang ditanyakan oleh relawan berdasarkan tulisan yang dibaca.

Arif, siswa Rangking 1 di pertemuan keenam

Arif, siswa Rangking 1 di pertemuan keenam

 

 

 

Dari beberapa permainan itu, kami memilih anak yang berhak mendapat “sesuatu”. Anak itu bernama Arif. Anaknya tenang dan aktif menjawab serta mematuhi peraturan. Banyak yang protes, tapi kami mulai menenangkan mereka. Rangking 1 akan digilir setiap pertemuan, siapa yang mematuhi peraturan dan aktif, dia yang akan mendapatkan predikat Rangking 1.

Ditulis oleh Relawan Tim B, Nulis Bareng Sobat, Ayusti Dirga.

Read More →