Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian ~ Pramoedya Ananta Toer (1925-2006)

 

Menulis belumlah menjadi budaya bagi sebagian besar masyarakat kita, termasuk masyarakat yang terpelajar. Budaya tersebut selayaknya ditanamkan, disiram dan dipupuk sejak usia dini.

 

Menulis merupakan sarana untuk berbagi cerita, pengalaman, kisah, ide, konsep, tips dan yang terpenting adalah merupakan sharing pengetahuan dengan orang lain.

 

Tak semua anak beruntung, bisa belajar di sebuah sekolah yang melatihkan ke mereka untuk selalu menulis dan menulis. Padahal setiap anak selalu punya kisah dan mimpi untuk dituliskan sebagai sejarah perjalanan hidup dan impiannya.

 

Haruskah menanti Pemerintah melakukannya? sementara setiap detik, anak-anak itu tumbuh semakin besar dan menjadi pemuda penerus bangsa besar ini.

 

Hal di atas mendasari Relawan Lemina untuk mengambil bagian dalam menanamkan budaya menulis pada anak-anak sejak dini. Kami mengawalinya di Juni 2013, di sebuah komunitas anak-anak di sekitar Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPAS) Tamangapa Antang Makassar.

 

Kami menyebut kegiatan ini dengan “Nulis Bareng Sobatku”. Kakak-kakak relawan akan menulis bareng sobat-sobat kecil di TPAS Tamangapa, mulai 8 Juni 2013 dan akan beranjut setiap bulannya, hingga Mei 2014.

 

Tulisan terbaik akan ditempelkan di sini

 

Bunda Aisyah Fad menjelaskan ke adek2, trik mengamati benda

 

 
Nulis Bareng Sobat bulan pertama, bersama Ibu-Ibu Doyan Nulis
Tuliskan Sejarahmu

 

Kak Anto Dayat dan sobatnya

 

Kak Fany  nulis bareng sobat-sobatnya

 

Kak Faat dan sobatnya

 

Kak Atifah dan sobat-sobatnya

 

Kak Dimas dan adek Putri “Beri saya ide, kak”

 

Kak Jumed dan sobat jagoannya

 

Kak Udpa dan Sobat-sobatnya

 

 

 

 

Read More →