Pendidikan telah digratiskan oleh pemerintah, siswa tidak lagi dikenakan biaya sekolah. Namun, seragam sekolah dan perlengkapannya belum gratis. Olehnya itu, Relawan Anak Lemina menganggap penting untuk mendukung mereka yang berasal dari keluarga dengan pendapatan rendah dan sedang duduk di bangku sekolah, untuk tetap melanjutkan bersekolah.

Di saat komunitas lain sedang menyelenggarakan sekolah alternatif untuk anak-anak jalan, relawan Lemina memilih untuk melakukan kegiatan pencegahan. Kami mencegah anak-anak yang sedang duduk di bangku sekolah untuk memilih berhenti dan turun ke jalan bersama anak lain.

Kegiatan pencegahan kami berupa program “Seragam Untuk Sobatku”. Sebuah program yang mengajak orang banyak untuk menjadi SOBAT anak-anak dengan menyediakan seragam atau perlengkapan sekolah bagi sobat-sobat kecil mereka di sekolah Dasar. 

Seragam Tuk Sobatku, sudah berlangsung 2 kali. Pada tahun 2012 dan tahun 2013 ini. Jumlah sobat kecil penerima seragam dan perlengkapan dari sobat2 mereka yang peduli adalah sebanyak kurang lebih 100 orang. Sumbangan berupa seragam, perlengkapan sekolah dan uang tunai, kami peroleh dari orang2 yang peduli, komunitas di Makassar (Makassar Cooking Club dan TDA MAkassar) serta sobat2 Relawan Anak.


Harapannya, kegiatan ini akan menjadi kegiatan tahunan dari LemINA.

 Seragam untuk Sobatku

Sobat2 Kecil Sinrijala

Sobat2 Kecil Sinrijala. thn 2012

Cerita tentang Cita-citaku. Seragam Tuk Sobatku  2012
Cerita tentang Cita-citaku. Seragam Tuk Sobatku 2012

Bersama Sobat2 kecil Bantaeng 2012

Bersama Sobat2 kecil Bantaeng 2012

Sobat2 Kecil SD Karuwisi II Makassar 2013

Sobat2 Kecil SD Karuwisi II Makassar 2013

Sobat2 Kecil SD Islam Cokro Makasssar 2013

Sobat2 Kecil SD Islam Cokro Makasssar 2013

Kak Astinah dan sobat kecilnya

Kak Astinah dan sobat kecilnya

Kak Ina dan Kak Calu

Kak Ina dan Kak Calu

Ketika Kak Agus membujuk

Ketika Kak Agus membujuk

Kak Udpa paling rajin bagi2 ke adek2

Kak Udpa paling rajin bagi2 ke adek2

Kak Heru mendongeng

Kak Heru mendongeng

Read More →

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian ~ Pramoedya Ananta Toer (1925-2006)

 

Menulis belumlah menjadi budaya bagi sebagian besar masyarakat kita, termasuk masyarakat yang terpelajar. Budaya tersebut selayaknya ditanamkan, disiram dan dipupuk sejak usia dini.

 

Menulis merupakan sarana untuk berbagi cerita, pengalaman, kisah, ide, konsep, tips dan yang terpenting adalah merupakan sharing pengetahuan dengan orang lain.

 

Tak semua anak beruntung, bisa belajar di sebuah sekolah yang melatihkan ke mereka untuk selalu menulis dan menulis. Padahal setiap anak selalu punya kisah dan mimpi untuk dituliskan sebagai sejarah perjalanan hidup dan impiannya.

 

Haruskah menanti Pemerintah melakukannya? sementara setiap detik, anak-anak itu tumbuh semakin besar dan menjadi pemuda penerus bangsa besar ini.

 

Hal di atas mendasari Relawan Lemina untuk mengambil bagian dalam menanamkan budaya menulis pada anak-anak sejak dini. Kami mengawalinya di Juni 2013, di sebuah komunitas anak-anak di sekitar Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPAS) Tamangapa Antang Makassar.

 

Kami menyebut kegiatan ini dengan “Nulis Bareng Sobatku”. Kakak-kakak relawan akan menulis bareng sobat-sobat kecil di TPAS Tamangapa, mulai 8 Juni 2013 dan akan beranjut setiap bulannya, hingga Mei 2014.

 

Tulisan terbaik akan ditempelkan di sini

 

Bunda Aisyah Fad menjelaskan ke adek2, trik mengamati benda

 

 
Nulis Bareng Sobat bulan pertama, bersama Ibu-Ibu Doyan Nulis
Tuliskan Sejarahmu

 

Kak Anto Dayat dan sobatnya

 

Kak Fany  nulis bareng sobat-sobatnya

 

Kak Faat dan sobatnya

 

Kak Atifah dan sobat-sobatnya

 

Kak Dimas dan adek Putri “Beri saya ide, kak”

 

Kak Jumed dan sobat jagoannya

 

Kak Udpa dan Sobat-sobatnya

 

 

 

 

Read More →